My Dream

My Dream
AKU AKAN KE KOTA PARIS

Minggu, 17 Agustus 2014

DESTINY


Chapter 1
Keajaiban sang jenius
Jika aku memiliki suatu pilihan maka aku akan .....................
Pertama-tama perkenalkan aku Ana Luna, temen-temenku biasa panggil aku Luna, mahasiswa suatu universitas sangat terkenal dan bersejarah di Jogja. Anak paling kece, cukup pintar, dan kuat namun biasa adja kalau soal cinta. Gak terkenal tapi cukuplah dikenal. Keajaiban yang aku punya adalah imaginasiku yang tinggi banget(akibat keseringan nonton anime dan baca manga).
Malam itu aku sedang menikmati indahnya bulan sabit sembari membaca buku novel Sang Malaikat Takdir. Sang malaikat memilih satu umat dari sejuta umat manusia yang ada didunia untuk memberikan suatu pilihan hidup penentu takdirnya. Umat tersebut sangatlah beruntung namun juga tidak.
Andaikan aku adalah satu umat tersebut, aku mau jadi cowok cantik dan tampan, memiliki senyuman mempesona, tinggi 185 cm, kulit putih bersih, pintar dalam segala hal seperti Kei Takashima, anime Special A.^_^(ngayal tingkat tinggi gara-gara kejedot jendela).
Enough! Daripada keterusan ngayal gak jelas mending tidur di kasur empuk nan nyaman. Tapi jangan lupa tutup jendela dulu. O_O ???? Eits cahaya apaan tuh ?(sekilas cahaya terbang mendekat). Eeeeehhhh kok makin deket kesini. Aaaaaaaaaarrrrrrrrgggggggghhhhhhhh ................................... It’s GHOST (pingsan gaya orang shock).
Itta itta..... kepalaku sakit banget. Ieeeeeeeeeeeeeehhhhhhhhhhhhh dimana aku ?????(baru sadar kalau tempatnya beda).
“kau tak apa?”. Terdengar suara lembut dari sosok yang samar-samar terlihat seperti ... eh itu kan sosok dikamar gue tadi???
“Siapa kamu?” Tanya ku.
Aku malaikat takdir yang diutus untuk menemuimu. Panggil aku Ridwan.” Ah, dare? Malaikat? NAN DESU KA? (jeritan batin).
“Ka, ka, ka, kau mau apa dengan ku? Jangan ambil nyawa ku dulu ya?” Tanya ku ala gagap saking takutnya.  
“Memberikan takdir hidupmu yang lainnya. Bukan pencabut nyawa kok.” Jawabnya dengan singgungan senyumannya.
“A a a a,, aku tidak mengerti, bukan pencabut nyawakah? terus kenapa aku, maksudmu takdirku apa?”  (kebingungan ala keppo). Dengan sabarnya si Rid (kita panggil dia begitu saja, lebih keren) menjelaskan tujuan dan tugasnya datang menemuiku. Aku tercengang mendengarnya. Nan desu ka? Mimpikah? (tampar diri sendiri,plak). Setengah percaya dan enggak aku mencoba untuk membuktikannya dengan mengikuti arahan si Rid itu.
“Sekarang, aku akan memberikan kesempatan untukmu mengubah kehidupan sesuai yang kamu inginkan. Pikirkanlah sesuai keinginanmu untuk mengubah takdir ini. Setelah itu kamu harus memilih dari takdir yang kamu inginkan dengan takdirmu yang sudah ditentukan,”
Mengubah takdirku? Sesuai keinginanku? Benarkah?
 “Kalau begitu yang aku inginkan......... “
«»
Setelah aku mengungkapkan sebuah keinginanku yang sederhana untuknya tapi tetap rumit untukku buat nerima juga, aku dituntun menuju sebuah pintu putih yang sangat terang dan menyilaukan, pintu itu mempunyai ukiran-ukiran halus berwarna perak yang sangat menawan menurutku dan disampingnya ada mawar merah dan putih yang sangat indah. Kemudian aku tak ingat lagi. Karena saat aku terbangun aku sudah berada di kamarku lagi.
Huaaaaaaaaammmmm.....(menguap). Masih ngantuk niy, ternyata itu tadi cuma mimpi toh, sayang deh (batinku). Terbangun dari tidur cantikku biasanya langsung ke kamar mandi buat mandi, tapi...................... kok ada yang aneh ya? Ehmmmm... (Lihat-lihat sekeliling kamar). Ah bodo, yang penting mandi dulu. (you bye ^_^)
Aaaaaaaaaaaaaaaaarrrrrrrrrrrrrrrgggggggggggggggggghhhhhhhhhhhhhh(jeritanku yang meluluh lantahkan dunia) kenapa aku ada disini? Rumahku? Inikan rumah waktu SMP? Jangan-jangan aku, keinginan itu, malaikat itu? BUKAN MIMPI !!!!!! (berlari super cepet kedepan cermin dan ternyata....) a, a, aku JADI COWOK?????? Yare-yare...gak mimpi toh?
“Ada apa, kenapa berteriak seperti itu di rumah?” tanya seseorang dengan panik. Sungguh sangat terkejutlah diriku. Karena dihadapanku terdapat sosok seorang wanita berparas cantik nan putih, sedikit gemuk dan keibuan. Air mata pun menetes, sosok tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah mama ku. Ibu yang aku tahu telah meninggal saat aku masih kelas 9 SMP. Tunggu, diriku sekarang, tempat ini, dan sosok yang dihadapanku ini?
“Kalau begitu yang aku inginkan adalah aku ingin terlahir sebagai laki-laki bernama Arjuna yang berparas cantik dan tampan, berkulit putih dan bersih, kuat serta pintar dan baik hati, kembali pada saat aku masih SMP dan tidak membiarkan ibu dan adikku meninggal. Dari situ aku akan menentukan nasib ku yang akan datang.”
Ini adalah keinginan yang aku katakan pada malaikat tersebut. Ternyata semua nyata. Ku peluk mamaku erat-erat sembari bersyukur dan menangis.
“Ada apa Juna, pagi-pagi begini kau sudah menangis?” tanya mamaku yang tak kujawab karena aku sedang bahagia.
“sudah terkabulkan keinginanmu, ingatlah pada Allah, laksanakan perintahnya dan jauhi larangannya. Berbaktilah pada orangtuamu dan ingatlah bahwa suatu hari nanti aku akan kembali menemuimu untuk mempertanyakan pertanggung jawabanmu.” Terdengar suara si Rid. Terimakasih Ya Allah, kan kujaga pemberianmu kali ini.
«»
Setelah itu aku hidup sebagai Arjuna Notonegoro. Mengawali semua dari aku yang akan masuk SMP negeri satu-satunya yang ada di Serongga, Kalimantan Selatan. Banyak yang mengatakan bahwa aku tidak cocok sebagai laki-laki karena wajah cantikku yang tetap maskulin tapi sebagian lagi mengatakan cocok karena aku kuat, cool, smart dan tinggi. Banyak pula yang ketipu karena ku(saking cantiknya aku ^_^, maklum akukan dari kota Balikpapan) dan ada pula yang mencoba membullyku T_T. Tapi aku anggap itu biasa karena dengan diriku yang sekarang aku akan mencoba mengatasi masalahku. Aku sudah puas dengan diriku ini(mencoba menerima dengan ikhlas).
Masa SMP aku jalani dengan rasa bersyukur, tak banyak yang berubah dari yang dulu saat aku adalah Luna. Yang berbeda hanyalah teman, prestasi, sifat dan sikap, yah sebagaimana cowok pintar nan jenius yang bisa menguasai semua mata pelajaran termasuk bahasa inggris, korea dan jepang secara otodidak.(jenius banget, didunia sebenarnya mah mungkin kagak ada yang macam beginian) ada lagi selama SMP aku enggak punya pacar alias jomblo demi masa depan ABG ku yang enggak ingin aku racuni dengan hubungan monyet tersebut(alim bener) dan aku sekarang lebih religius (dulunya kagak juga). Sejak SD aku sangat menyukai basket, selama SMP aku mengikuti pertandingan antar sekolah, aku juga selalu ikut olimpiade sains. Tapi karena sudah terlalu biasa mengetahui dan melakukan hal dengan mudah, aku sedikit merasa bosan di sini. Ingin hati pergi melihat dunia luar yang selama ini hanya ku lihat ditelevisi dan buku-buku yang ku baca (gini-gini dari dulu aku suka baca buku loh).
Sekarang aku kelas 9 SMP semester akhir, terbesit dipikiran ku untuk mencari beasiswa keluar negeri ketika sudah lulus nanti. Mulai dari internet sampai menanyakannya pada kepala sekolahku (keppo banget saking pengennya), akhirnya aku mendapatkannya, tapi aku harus melalui tahap ujian tes terlebih dahulu di kota banjarmasin(jauh banget,,,huhuhu). Setelah tes tersebut, sebulan kemudian aku menerima pengumuman dari departemen pendidikan di wilayah ku. SEBUAH SURAT RESMI YANG DIKIRIM LEWAT POS datang ke rumahku. Waaaaahhhh,,, deg-degan jantungku saat membukanya(walau aku yakin aku lulus karena aku menjawab dengan benar saat tes, memiliki piagam dan penghargaan olimpiade sampai nasional, serta transkip nilaiku yang bisa dibilang sangat bagus sekali^_^, sombong euy?).
Kubuka perlahan tapi pasti amplop warna coklat nan besar tersebut kreekk...(bunyi sobekan kertas terdengar), keringat dingin pun keluar mengikuti detak jantungku, gemetar tanganku mulai terasa, wajah pucat mulai terlihat diwajah cantikku, ku ambil secarik kertas dalam amplop dengan hati-hati, kubaca kata demi kata dan sampailah aku pada sebuah kalimat “SELAMAT ANDA MENDAPATKAN BEASISWA LUAR NEGERI” (kira-kira seperti itulah kalimatnya).
Seneng banget, jingkrak-jingkrak kesana kemari sambil teriak-teriak kesenangan. “mamaaaaaaaakkk, bapaaaaaaakkkkk Juna berhasil dapat beasiswa luar negeri,,,,, horeeeee.”
“Arjuna ada apa sih kamu ini, minggu-minggu gini teriak-teriak kayak orang gila?” tanya mamaku rada panik sambil bawa centong sayur.
Disusul bapakku “Ada apa Jun? Ribut sekali kamu ini.”
“Mama, bapak, Juna berhasil dapat beasiswa luar negeri!” pekikku masih girang. CETOKKK,,, (bunyi centong yang mendarat dikepalaku).
“Ittaaa,,, sakit ma.” Jeritku sambil ngelus kepala sendiri.
“Seneng sih seneng, tapi jangan bikin mama jantungan karena teriakmu, kalau adikmu yang dalam perut mama tiba-tiba keluar gimana?” omelan canda yang sepanjang hidup selalu ku dengar.
 “Gomene mama, Juna kan Cuma berekspresi.” Dengan raut rada nakal.
“Memang kamu dapat negara apa?” tanya bapak yang membuatku teringat bahwa aku belum membaca terusan dari kalimat tadi. Ku lanjutkan membaca surat tersebut dan .....
“I.N.G.G.R.I.S” ejaanku.
“Apa?” tanya mamaku yang membuyarkan lamunanku.
“Inggris mama, Arjuna bakal nerusin SMA di benua Eropa itu.” Jawabku rada lirih.
“Wah jauh juga, tapi kenapa kamu terlihat sedih begitu? Tanya bapak.
“Ehmmm, enggak juga, Cuma kenapa Inggris ? kan Juna suka Jepang.” Jelasku.
“Arjuna, harusnya kamu bersyukur bukannya kamu mau menjadi dokter. Mungkin ini yang terbaik buat kamu.” Kata mamaku yang mencoba melegakan hatiku.
“Hei Juna, Inggris itu baguslah, jangan kamu mewek kayak anak kecil gitu, kau kan suka jepang karena nonton kartun NARUTO tiap malam itu kan.” Tambah bapakku.
“itu ANIME bapak bukan KARTUN.” Mengkritik.
“Ya apalah itu, kalau kamu udah berhasil dan sukses, kamu kan bisa ke jepang sendiri. Anak laki-laki gak pantas menangis dan sedih kayak gitu seperti perempuan saja.” Ejek bapakku(tambah sedih niy dibilang kayak cewe sama bokap sendiri, padahal bapak yang paling seneng kalau aku cowok @_@). Ada benarnya juga perkataan bapak. Ini mungkin adalah jalan hidupku yang sekarang. Yah aku mulai terbiasa dengan ini.
 «»
Setelah insiden itu, aku mempersiapkan ujian akhirku sebaik mungkin. Ah.... aku teringat kalau SMP kelas 9 try out ketiga, mamaku melahirkan adikku dan meninggal bersama adikku pula. Dan sekarang aku memasukki try out pertama ku. Aaaaaarrrrggghhhhh (teriak batinku) aku harus berusaha menyelamatkan mama dan adikku, karena aku kembali ke masa ini bukan hanya untuk merubah diriku tapi untuk menyelamatkan seseorang. Ah. Aku harus mengingat-ingat kejadian dahulu(berpikir dan berusaha mengingat dengan keras). Gotcha..... i’m remember that. Okay now, i will to make some plan for my mom and her son.
Terlihat mama sedang menjaga warung makan di depan. Aku pun baru pulang dari sekolah. Setelah mencium tangan mama dan papa serta mengganti baju, aku mendekati mama.
“mama?” panggilku.
“kenapa, Nak?” menjawab panggilanku.
“mama kalau waktunya melahirkan adik, lebih baik melahirkannya di jawa saja, yah dirumah sakit yang cukup bagus dan lengkap peralatannya.” Jawabku dengan cemas(thats my plan).
“kenapa kamu berkata seperti itu?” tanya mamaku lagi.
“Juna punya firasat buruk soal itu dan lagi mama kan punya darah tinggi jadi jangan makan daging dulu ya, makan sayur adja lebih bagus. Yah misalnya proses melahirkannya ada hambatan karena darah tinggi itu, rumah sakit bagus dijawa kan punya dokter yang bagus dan alat yang canggih jadi bisa langsung tanggap. Juna Cuma gak mau kehilangan mama dan adik adja.” Jelasku lagi dengan penuh harap. (saat ini aku sedang melow total).
“Arjuna, jangan berpikiran seperti itu, mama akan baik-baik saja kok disini. Itu hanya perasaanmu saja.” Tampik mamaku.
“Enggak, Juna punya feeling yang selalu tepat soal hal buruk. Kali ini mama harus percaya dan ikut kata-kata Juna.” Berusaha meyakinkan mama.
“Tapi kalau dijawa biayanya cukup mahal Juna, belum transportasi, administrasi rumah sakit, biaya hidup dan.....” “Mama gak usah khawatir, mama bisa pakai uang Juna hasil olimpiade dulu.” Memotong perkataan mama.
“Uang itukan untuk sekolahmu Juna.” Jelas mama.
“Arjuna tau. Tapi uang itu kan cukup banyak. Mama tidak usah memikirkan hal rumit seperti itu dulu. Sekarang yang terpenting adalah mama dan adik.” Tambahku dengan tegas gaya orang bijaksana ^_^.
“Coba bicarakan hal ini terlebih dahulu sama bapakmu dan kita musyawarahkan bersama.” Lanjut mama.
Malam itu setelah sholat Isya, segera aku bicarakan dengan bapak tentang mama dan di musyawarahkan bersama. Akhirnya kami sepakat kalau mama akan mengikuti saranku tetapi mama akan melahirkannya di Banjarmasin. Dan aku disini tidak boleh sendiri, aku ditemani keluarga Pakde dan mas-mas ku yang baik. Lega hatiku sekarang tapi aku tetap tidak boleh lengah karena aku merubah takdir kematian manusia bukan hanya nasib manusia. Ini berat dan aku harus terus mengawasi. Tolong hambamu ini Ya Allah dan maafkan segala dosa hamba dan kedua orangtua hamba. Amin. 
Usia kehamilan mama sudah 8 bulan. Mamaku juga sudah mengadakan selamatan 7 bulanan. Hari dimana mama dan bapak berangkat ke Banjar telah sampai. Aku berharap mereka selamat dan sehat selalu di tempat tujuan. Amin.
Sekarang aku sudah sendiri disini. Kegiatan ku hanya belajar, membersihkan rumah, berkomunikasi dengan bapakku (menanyakan tentang mama) dan mengurus visa dan paspor (ngurus ini rada sulit tyuz lumayan agak lama hampir sama kayak ngurus ktp dan sim, capek deh) . Akhirnya mama, bapak dan adikku pulang ke rumah. Aku sangat lega dan senang karena mama dan adikku selamat. Terimakasih Ya Allah engkau mengabulkan doa ku. Hari-hari sebelum keberangkatanku ke luar negeri sangat menyenangkan, mama membelikan baju, jaket, sepatu, koper, tas dan peralatan-peralatan seperti alat mandi, buku dan bahkan membelikan satu set perawatan kulit buatku(malu juga jadi kayak cewek beneran). Temen-temen dan guru pun ikutan bantuin aku, seperti membelikan topi yang jadi kesukaanku dan buku-buku yang jadi makanan otakku. Arigatou gozaimasu, watashi daisuki minna ^_^.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar