Chapter 1
Keajaiban sang
jenius
Jika aku memiliki suatu pilihan maka aku akan .....................
Pertama-tama
perkenalkan aku Ana Luna, temen-temenku biasa panggil aku Luna, mahasiswa suatu
universitas sangat terkenal dan bersejarah di Jogja. Anak paling kece, cukup
pintar, dan kuat namun biasa adja kalau soal cinta. Gak terkenal tapi cukuplah
dikenal. Keajaiban yang aku punya adalah imaginasiku yang tinggi banget(akibat
keseringan nonton anime dan baca manga).
Malam itu aku
sedang menikmati indahnya bulan sabit sembari membaca buku novel Sang Malaikat Takdir. Sang
malaikat memilih satu umat dari sejuta umat manusia yang ada didunia untuk
memberikan suatu pilihan hidup penentu takdirnya. Umat tersebut sangatlah
beruntung namun juga tidak.
Andaikan aku
adalah satu umat tersebut, aku mau jadi cowok cantik dan tampan, memiliki
senyuman mempesona, tinggi 185 cm, kulit putih bersih, pintar dalam segala hal
seperti Kei Takashima, anime Special A.^_^(ngayal tingkat tinggi gara-gara
kejedot jendela).
Enough! Daripada
keterusan ngayal gak jelas mending tidur di kasur empuk nan nyaman. Tapi jangan
lupa tutup jendela dulu. O_O ???? Eits cahaya apaan tuh ?(sekilas cahaya
terbang mendekat). Eeeeehhhh kok makin deket kesini.
Aaaaaaaaaarrrrrrrrgggggggghhhhhhhh ................................... It’s GHOST
(pingsan gaya orang shock).
Itta itta..... kepalaku
sakit banget. Ieeeeeeeeeeeeeehhhhhhhhhhhhh dimana aku ?????(baru sadar kalau
tempatnya beda).
“kau tak apa?”. Terdengar suara lembut dari sosok yang samar-samar terlihat seperti
... eh itu kan sosok dikamar gue tadi???
“Siapa kamu?”
Tanya ku.
“Aku malaikat takdir yang diutus untuk
menemuimu. Panggil aku Ridwan.” Ah, dare? Malaikat? NAN DESU KA? (jeritan
batin).
“Ka, ka, ka, kau
mau apa dengan ku? Jangan ambil nyawa ku dulu ya?” Tanya ku ala gagap saking
takutnya.
“Memberikan takdir hidupmu yang lainnya. Bukan pencabut nyawa kok.” Jawabnya dengan
singgungan senyumannya.
“A a a a,, aku
tidak mengerti, bukan pencabut nyawakah? terus kenapa aku, maksudmu takdirku
apa?” (kebingungan ala keppo). Dengan
sabarnya si Rid (kita panggil dia begitu saja, lebih keren) menjelaskan tujuan
dan tugasnya datang menemuiku. Aku tercengang mendengarnya. Nan desu ka? Mimpikah?
(tampar diri sendiri,plak). Setengah percaya dan enggak aku mencoba untuk
membuktikannya dengan mengikuti arahan si Rid itu.
“Sekarang, aku akan memberikan kesempatan untukmu mengubah kehidupan
sesuai yang kamu inginkan. Pikirkanlah sesuai keinginanmu untuk mengubah takdir
ini. Setelah itu kamu harus memilih dari takdir yang kamu inginkan dengan
takdirmu yang sudah ditentukan,”
Mengubah takdirku?
Sesuai keinginanku? Benarkah?
“Kalau begitu yang aku inginkan......... “
«»
Setelah aku
mengungkapkan sebuah keinginanku yang sederhana untuknya tapi tetap rumit
untukku buat nerima juga, aku dituntun menuju sebuah pintu putih yang sangat
terang dan menyilaukan, pintu itu mempunyai ukiran-ukiran halus berwarna perak
yang sangat menawan menurutku dan disampingnya ada mawar merah dan putih yang
sangat indah. Kemudian aku tak ingat lagi. Karena saat aku terbangun aku sudah
berada di kamarku lagi.
Huaaaaaaaaammmmm.....(menguap).
Masih ngantuk niy, ternyata itu tadi cuma mimpi toh, sayang deh (batinku).
Terbangun dari tidur cantikku biasanya langsung ke kamar mandi buat mandi,
tapi...................... kok ada yang aneh ya? Ehmmmm... (Lihat-lihat
sekeliling kamar). Ah bodo, yang penting mandi dulu. (you bye ^_^)
Aaaaaaaaaaaaaaaaarrrrrrrrrrrrrrrgggggggggggggggggghhhhhhhhhhhhhh(jeritanku
yang meluluh lantahkan dunia) kenapa aku ada disini? Rumahku? Inikan rumah
waktu SMP? Jangan-jangan aku, keinginan itu, malaikat itu? BUKAN MIMPI !!!!!!
(berlari super cepet kedepan cermin dan ternyata....) a, a, aku JADI
COWOK?????? Yare-yare...gak mimpi toh?
“Ada apa, kenapa
berteriak seperti itu di rumah?” tanya seseorang dengan panik. Sungguh sangat
terkejutlah diriku. Karena dihadapanku terdapat sosok seorang wanita berparas
cantik nan putih, sedikit gemuk dan keibuan. Air mata pun menetes, sosok
tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah mama ku. Ibu yang aku tahu telah
meninggal saat aku masih kelas 9 SMP. Tunggu, diriku sekarang, tempat ini, dan
sosok yang dihadapanku ini?
“Kalau begitu yang aku inginkan adalah aku ingin terlahir sebagai
laki-laki bernama Arjuna yang berparas cantik dan tampan, berkulit putih dan
bersih, kuat serta pintar dan baik hati, kembali pada saat aku masih SMP dan
tidak membiarkan ibu dan adikku meninggal. Dari situ aku akan menentukan nasib
ku yang akan datang.”
Ini adalah
keinginan yang aku katakan pada malaikat tersebut. Ternyata semua nyata. Ku
peluk mamaku erat-erat sembari bersyukur dan menangis.
“Ada apa Juna,
pagi-pagi begini kau sudah menangis?” tanya mamaku yang tak kujawab karena aku
sedang bahagia.
“sudah terkabulkan keinginanmu, ingatlah pada Allah, laksanakan
perintahnya dan jauhi larangannya. Berbaktilah pada orangtuamu dan ingatlah
bahwa suatu hari nanti aku akan kembali menemuimu untuk mempertanyakan
pertanggung jawabanmu.” Terdengar suara si Rid. Terimakasih Ya Allah, kan kujaga pemberianmu
kali ini.
«»
Setelah itu aku
hidup sebagai Arjuna Notonegoro. Mengawali semua dari aku yang akan masuk SMP
negeri satu-satunya yang ada di Serongga, Kalimantan Selatan. Banyak yang
mengatakan bahwa aku tidak cocok sebagai laki-laki karena wajah cantikku yang
tetap maskulin tapi sebagian lagi mengatakan cocok karena aku kuat, cool, smart
dan tinggi. Banyak pula yang ketipu karena ku(saking cantiknya aku ^_^, maklum
akukan dari kota Balikpapan) dan ada pula yang mencoba membullyku T_T. Tapi aku
anggap itu biasa karena dengan diriku yang sekarang aku akan mencoba mengatasi
masalahku. Aku sudah puas dengan diriku ini(mencoba menerima dengan ikhlas).
Masa SMP aku
jalani dengan rasa bersyukur, tak banyak yang berubah dari yang dulu saat aku
adalah Luna. Yang berbeda hanyalah teman, prestasi, sifat dan sikap, yah
sebagaimana cowok pintar nan jenius yang bisa menguasai semua mata pelajaran
termasuk bahasa inggris, korea dan jepang secara otodidak.(jenius banget,
didunia sebenarnya mah mungkin kagak ada yang macam beginian) ada lagi selama
SMP aku enggak punya pacar alias jomblo demi masa depan ABG ku yang enggak
ingin aku racuni dengan hubungan monyet tersebut(alim bener) dan aku sekarang
lebih religius (dulunya kagak juga). Sejak SD aku sangat menyukai basket,
selama SMP aku mengikuti pertandingan antar sekolah, aku juga selalu ikut
olimpiade sains. Tapi karena sudah terlalu biasa mengetahui dan melakukan hal
dengan mudah, aku sedikit merasa bosan di sini. Ingin hati pergi melihat dunia
luar yang selama ini hanya ku lihat ditelevisi dan buku-buku yang ku baca
(gini-gini dari dulu aku suka baca buku loh).
Sekarang aku
kelas 9 SMP semester akhir, terbesit dipikiran ku untuk mencari beasiswa keluar
negeri ketika sudah lulus nanti. Mulai dari internet sampai menanyakannya pada
kepala sekolahku (keppo banget saking pengennya), akhirnya aku mendapatkannya,
tapi aku harus melalui tahap ujian tes terlebih dahulu di kota banjarmasin(jauh
banget,,,huhuhu). Setelah tes tersebut, sebulan kemudian aku menerima
pengumuman dari departemen pendidikan di wilayah ku. SEBUAH SURAT RESMI YANG
DIKIRIM LEWAT POS datang ke rumahku. Waaaaahhhh,,, deg-degan jantungku saat
membukanya(walau aku yakin aku lulus karena aku menjawab dengan benar saat tes,
memiliki piagam dan penghargaan olimpiade sampai nasional, serta transkip
nilaiku yang bisa dibilang sangat bagus sekali^_^, sombong euy?).
Kubuka perlahan
tapi pasti amplop warna coklat nan besar tersebut kreekk...(bunyi sobekan
kertas terdengar), keringat dingin pun keluar mengikuti detak jantungku,
gemetar tanganku mulai terasa, wajah pucat mulai terlihat diwajah cantikku, ku
ambil secarik kertas dalam amplop dengan hati-hati, kubaca kata demi kata dan
sampailah aku pada sebuah kalimat “SELAMAT ANDA MENDAPATKAN BEASISWA LUAR
NEGERI” (kira-kira seperti itulah kalimatnya).
Seneng banget,
jingkrak-jingkrak kesana kemari sambil teriak-teriak kesenangan.
“mamaaaaaaaakkk, bapaaaaaaakkkkk Juna berhasil dapat beasiswa luar negeri,,,,,
horeeeee.”
“Arjuna ada apa
sih kamu ini, minggu-minggu gini teriak-teriak kayak orang gila?” tanya mamaku
rada panik sambil bawa centong sayur.
Disusul bapakku
“Ada apa Jun? Ribut sekali kamu ini.”
“Mama, bapak,
Juna berhasil dapat beasiswa luar negeri!” pekikku masih girang. CETOKKK,,,
(bunyi centong yang mendarat dikepalaku).
“Ittaaa,,, sakit
ma.” Jeritku sambil ngelus kepala sendiri.
“Seneng sih
seneng, tapi jangan bikin mama jantungan karena teriakmu, kalau adikmu yang
dalam perut mama tiba-tiba keluar gimana?” omelan canda yang sepanjang hidup
selalu ku dengar.
“Gomene mama, Juna kan Cuma berekspresi.” Dengan
raut rada nakal.
“Memang kamu
dapat negara apa?” tanya bapak yang membuatku teringat bahwa aku belum membaca
terusan dari kalimat tadi. Ku lanjutkan membaca surat tersebut dan .....
“I.N.G.G.R.I.S”
ejaanku.
“Apa?” tanya
mamaku yang membuyarkan lamunanku.
“Inggris mama,
Arjuna bakal nerusin SMA di benua Eropa itu.” Jawabku rada lirih.
“Wah jauh juga,
tapi kenapa kamu terlihat sedih begitu? Tanya bapak.
“Ehmmm, enggak
juga, Cuma kenapa Inggris ? kan Juna suka Jepang.” Jelasku.
“Arjuna, harusnya
kamu bersyukur bukannya kamu mau menjadi dokter. Mungkin ini yang terbaik buat
kamu.” Kata mamaku yang mencoba melegakan hatiku.
“Hei Juna,
Inggris itu baguslah, jangan kamu mewek kayak anak kecil gitu, kau kan suka
jepang karena nonton kartun NARUTO tiap malam itu kan.” Tambah bapakku.
“itu ANIME bapak bukan
KARTUN.” Mengkritik.
“Ya apalah itu,
kalau kamu udah berhasil dan sukses, kamu kan bisa ke jepang sendiri. Anak
laki-laki gak pantas menangis dan sedih kayak gitu seperti perempuan saja.” Ejek
bapakku(tambah sedih niy dibilang kayak cewe sama bokap sendiri, padahal bapak
yang paling seneng kalau aku cowok @_@). Ada benarnya juga perkataan bapak. Ini
mungkin adalah jalan hidupku yang sekarang. Yah aku mulai terbiasa dengan ini.
«»
Setelah insiden
itu, aku mempersiapkan ujian akhirku sebaik mungkin. Ah.... aku teringat kalau
SMP kelas 9 try out ketiga, mamaku melahirkan adikku dan meninggal bersama
adikku pula. Dan sekarang aku memasukki try out pertama ku. Aaaaaarrrrggghhhhh
(teriak batinku) aku harus berusaha menyelamatkan mama dan adikku, karena aku
kembali ke masa ini bukan hanya untuk merubah diriku tapi untuk menyelamatkan
seseorang. Ah. Aku harus mengingat-ingat kejadian dahulu(berpikir dan berusaha
mengingat dengan keras). Gotcha..... i’m remember that. Okay now, i will to
make some plan for my mom and her son.
Terlihat mama
sedang menjaga warung makan di depan. Aku pun baru pulang dari sekolah. Setelah
mencium tangan mama dan papa serta mengganti baju, aku mendekati mama.
“mama?”
panggilku.
“kenapa, Nak?”
menjawab panggilanku.
“mama kalau
waktunya melahirkan adik, lebih baik melahirkannya di jawa saja, yah dirumah
sakit yang cukup bagus dan lengkap peralatannya.” Jawabku dengan cemas(thats my
plan).
“kenapa kamu
berkata seperti itu?” tanya mamaku lagi.
“Juna punya
firasat buruk soal itu dan lagi mama kan punya darah tinggi jadi jangan makan
daging dulu ya, makan sayur adja lebih bagus. Yah misalnya proses melahirkannya
ada hambatan karena darah tinggi itu, rumah sakit bagus dijawa kan punya dokter
yang bagus dan alat yang canggih jadi bisa langsung tanggap. Juna Cuma gak mau
kehilangan mama dan adik adja.” Jelasku lagi dengan penuh harap. (saat ini aku
sedang melow total).
“Arjuna, jangan
berpikiran seperti itu, mama akan baik-baik saja kok disini. Itu hanya
perasaanmu saja.” Tampik mamaku.
“Enggak, Juna
punya feeling yang selalu tepat soal hal buruk. Kali ini mama harus percaya dan
ikut kata-kata Juna.” Berusaha meyakinkan mama.
“Tapi kalau
dijawa biayanya cukup mahal Juna, belum transportasi, administrasi rumah sakit,
biaya hidup dan.....” “Mama gak usah khawatir, mama bisa pakai uang Juna hasil
olimpiade dulu.” Memotong perkataan mama.
“Uang itukan
untuk sekolahmu Juna.” Jelas mama.
“Arjuna tau. Tapi
uang itu kan cukup banyak. Mama tidak usah memikirkan hal rumit seperti itu
dulu. Sekarang yang terpenting adalah mama dan adik.” Tambahku dengan tegas
gaya orang bijaksana ^_^.
“Coba bicarakan
hal ini terlebih dahulu sama bapakmu dan kita musyawarahkan bersama.” Lanjut
mama.
Malam itu setelah
sholat Isya, segera aku bicarakan dengan bapak tentang mama dan di
musyawarahkan bersama. Akhirnya kami sepakat kalau mama akan mengikuti saranku
tetapi mama akan melahirkannya di Banjarmasin. Dan aku disini tidak boleh
sendiri, aku ditemani keluarga Pakde dan mas-mas ku yang baik. Lega hatiku
sekarang tapi aku tetap tidak boleh lengah karena aku merubah takdir kematian
manusia bukan hanya nasib manusia. Ini berat dan aku harus terus mengawasi.
Tolong hambamu ini Ya Allah dan maafkan segala dosa hamba dan kedua orangtua
hamba. Amin.
Usia kehamilan
mama sudah 8 bulan. Mamaku juga sudah mengadakan selamatan 7 bulanan. Hari
dimana mama dan bapak berangkat ke Banjar telah sampai. Aku berharap mereka
selamat dan sehat selalu di tempat tujuan. Amin.
Sekarang aku
sudah sendiri disini. Kegiatan ku hanya belajar, membersihkan rumah,
berkomunikasi dengan bapakku (menanyakan tentang mama) dan mengurus visa dan
paspor (ngurus ini rada sulit tyuz lumayan agak lama hampir sama kayak ngurus
ktp dan sim, capek deh) . Akhirnya mama, bapak dan adikku pulang ke rumah. Aku
sangat lega dan senang karena mama dan adikku selamat. Terimakasih Ya Allah
engkau mengabulkan doa ku. Hari-hari sebelum keberangkatanku ke luar negeri
sangat menyenangkan, mama membelikan baju, jaket, sepatu, koper, tas dan peralatan-peralatan
seperti alat mandi, buku dan bahkan membelikan satu set perawatan kulit
buatku(malu juga jadi kayak cewek beneran). Temen-temen dan guru pun ikutan
bantuin aku, seperti membelikan topi yang jadi kesukaanku dan buku-buku yang
jadi makanan otakku. Arigatou gozaimasu, watashi daisuki minna ^_^.